|
|
 |
Oct 25, 2007
Selamat Ulang Tahun, Gie..

Aku udah ketawaaaa aja, Gie dari awal mengumpulkan kenangan tentang kita untuk dituangkan dalam tulisan ini. Abis lucu kali semuanya…. Hanya saja tak enak ketawa sendiri tuh, bagai cinta bertepuk sebelah tangan.
Berkelebatlah semua kenangan kita tu, dari masih casis di Magelang, atau saat sudah siswa, yang kita duduk menangis berdua di pojok koridor asrama karena kangen ama bapak-bapak kita masing-masing. Kenangan bersama polisi (ehm), tentara (ehhmmm lagi), atau perjalanan Magelang-Jogja-Semarang (ehemmmmmm).
Ah, terlalu banyak yang sudah kita lewati bersama.
Tau, gak, Gie… Satu hal yang paling ngga bisa aku lupa (berhubung Pepet Batak, jadi aku kalo ketemu dia pake aku-kau).Waktu itu siang-siang di kost, aku lagi nggak ada kerjaan. Tiba-tiba si EW (tentara sok gagah yang pake choker ituh) meneleponku dan ngajak nonton fim Troy yang dibintangi Brad Pitt. Aku kan emang lagi pengen banget nonton Troy (yang ternyata sangat mengecewakan karena filmnya nggak sebaik yang semua orang harapkan). Aku tanya lah ”Bareng siapa lagi Zy, nontonnya?”. Dengan ringannya si EW menjawab, ”Dengan Pepet...”.
Wah, nonton bertiga nih… Tanpa pikir panjang, all I know is this is Troy and I wouldn’t miss it, datanglah aku tuh ke 21 BIP. Ternyata ketika datang ke sana, yang aku temui adalah mukamu yang penuh kemarahan karena (belakangan baru ngeh aku) EW mengundangku tanpa sepengetahuan mu. Ya Tuhan, aku sudah merusak kencanmu yang mungkin sudah kau rencanakan begitu sempurna, Gie. Aku pikir ini masalah sepele, jadi aku hanya meminta maaf dan mengira masalahnya selesai begitu saja. Ternyata, kau masih marah beberapa hari setelah insiden Troy itu, dan buntut-buntutnya aku tersinggung berat karena kau bikin aku berpikir bahwa cowok itu lebih penting daripada aku. Kita marahan pun jadinya, Gie. Aneh kali, ya… gak penting kali pula alasannya. Gimana pula aku gak tersinggung, tiap kali kita ketemu, kerjaanmu hanya merepet-repet aja gak jelas ngungkit-ngungkit betapa gak pengertiannya aku. Aku nih emang suka tulalit…. Seringkali itu terjadi, aku lambat kali loadingnya…. Bahkan ampe sekarang pun masih begitu, lho, Gie… Belum sembuh penyakit lemotku itu….
Ah, lucu kali. Kalo aja sekarang kita bisa ketemu pastilah itu aja yang kita ingat2 dan bikin kita terpingkal-pingkal.
Aku ingat pula waktu aku belum punya komputer, aku seringkali numpang ngetik di komputermu, tapi buntut-buntutnya kita malah nonton film dan ketiduran di depan komputer. Waktu itu kau beli VCD Meteor Garden 1 lengkap dari awal ampe akhir, dan itu bikin Abang-abang yang PDKT (ingetkah Abang Singapura yang ngaku2 mirip Bahar Riand Passa itu, Gie?) jadi ilfeel (mungkin mereka pikir, ”Apalah yang bisa aku harapkan dari cewek-cewek yang suka kali aman Dao Ming Tse ini?”).
Dan pernah aku lagi sendirian di kamarmu, tanpa kusadari pintu kamarmu terbuka, tiba-tiba ada seekor Golden Retriever gede banget mengendus-endusku dari belakang... Ngeri kali! Ternyata anjing itu punya ibu kostmu... Iiiihh...
Dan sekarang, Gie... Jangan bosan ya untuk terus berbagi dengan aku, walaupun aku suka gak denger telepon dari kau. Jangan bosan untuk terus berbagi tentang masalah dengan Bapak aku, Mama kau, pekerjaan, abang-abang kita, temen-temen yang satu persatu mulai menikah dan meninggalkan kita dalam kondisi lajang dan kesepian (apa siiiiyyy?).
Jangan pernah berubah, Gie.. Karena kita dan persahabatan kita sama-sama sudah teruji dan masih bertahan sampai saat ini.
Aku nggak sabar menunggu saat kapan Allah mengizinkan kita bertemu lagi, membiarkan aku menggenggam jari-jarimu yang gendut kayak jari Ibu Siska yang tukang masak di Indosiar itu, atau menarik-narik rambut keritingmu yang lurus hanya pada hari 1 dan 2 setelah rebonding, atau pipi tembilmu...
Aku kangen kali, Gie...
Selamat ulangtahun ke-25, yaa...
Gila tua kali kau, Gie...
Posted at 02:13 pm by ekanurlita
Permalink
Oct 23, 2007
(Untuk laki-laki terbaik dalam hati saya)
bismilah
Saya sedang duduk merenung, mungkin sudah terlalu lama. Saya sibuk memandangi pasang surut permukaan air, ombak yang mendebur tanpa kompromi, atau angin yang menerpa tanpa permisi. Semua datang seperti sebuah kewajaran yang mendadak asing, dan saya hanyalah sebongkah karang yang hanya bisa diam dan menerima.
Sudah lama saya memandangi tegarmu yang lambat laun berubah menjadi kepekaan yang luar biasa sakit jika tersentuh, ketenanganmu yang perlahan berubah menjadi ledakan-ledakan bila tersinggung sedikit saja. Jauh di dalam hati saya, saya ingin sekali dirimu menemukan (kembali) jati diri dan kekuatan yang sebenarnya. Kekuatanmu sebagai seorang pemimpin, penjaga, dan nakhoda dalam kapal yang sedang oleng tak terkendali ini.
Di balik semua diam ini, ada sebongkah hati yang luluh lantak, namun dengan airmata saya rekat serpihnya, agar tetap kuat menopang semua rasa yang datang dan pergi tanpa kenal permisi.
Saya ingin menemukan jalan kembali pada kebersamaan kita, tapi mengapa rasanya angin selalu menerpa terlalu kencang, ombak selalu mendebur terlalu keras, sehingga saya hanya bisa diam dan membiarkan air garam melarutkan kaki-kaki saya menjadi satu dengan molekulnya.
Selalu banyak hal yang dapat menjadikan kita berbagi setiap saat.. Dan rasanya kita mulai kehilangan semua itu...

Posted at 11:40 am by ekanurlita
Permalink
Oct 22, 2007
Selamat Ulangtahun Yudy…..
Yudy Liz Sevina Mawuntu My Dear…
Halo, Yudy… Pa kabar?
Hhhhh…. Berat rasanya ngucapin selamat ulang tahun buat loe.. Sudah 10 tahun, artinya 10 kali 17 Oktober gw ngucapin selamat ulang tahun buat loe, dan rasanya kita belum juga berbuat apa-apa untuk dunia ini… Jangankan untuk dunia, untuk diri sendiri saja belum…
Dulu Yud, jaman kita masih SMA, ulangtahun artinya makan kue tart di ruang nonton TV… Semua penghuni asrama tumpah ruah mengelilingi kue, mendoakan, lalu kita potong kue dan langsung masuk ke kamar masing-masing… Begitu saja….
Dulu Yud, jaman kita kuliah, ulangtahun artinya makan-makan di restoran cepat saji, makan ayam goreng dan menambah tumpukan kolesterol dalam darah, tapi kita ngga pernah peduli… Atau kita pesan makanan ke kamar kost loe di legokan Kanayakan, menganalisis semua kejadian (bahkan sampai pertanyaan “Apa dia beneran suka ama gw, ya?” itu kita analisa sampai lahirlah beberapa hipotesa…)
Lalu, sekarang, setelah umur 25, yang artinya dua angka bergandengan itu menuntut adanya konsekuensi pertanggungjawaban kita dalam hidup,….. ulangtahun artinya pertanyaan : “Resolusi apa yang sudah kita lakukan dalam hidup?”
Walaupun jawabannya nggak jauh-jauh dari karir dan jodoh, rasanya …. Mmmmh… maksudnya… gw berharap lebih banyak hal yang lebih berguna bisa kita lakukan dalam hidup ini…
Terimakasih untuk menjalin mimpi-mimpi kita bersama, Yudy… Tentang pekerjaan dengan salary 100 juta/bulan, tentang anak-anak kita nanti (Nadine dan Zahra…hehehehe…), berbagi peliharaan (Dude dan penyu lo yang gw lupa namanya), berbagi baju, berbagi tips-tips cantik, berbagi hidup, berlomba Bounce-Out….
Kadang gw kira loe pribadi yang kuat dan gue-lah yang super mellow dan sensi... Ternyata I am much stronger than you are.. Hmmm...hehehehe... Ah, kita seimbang lagi...
Dan... sumpeh maafin gw, Yud... Karena gw nggak ngijinin loe main film Jomblo (waktu itu gw pikir ”Judulnya aja Jomblo, norak banget sumpeh... Masak temen gue main film kampung gituh??”. Dan ketika ternyata filmnya booming abis dan keren banget (ada cowo loe lagi main disituh), gw...mmm...merasa telah menghalangi kesempatan sahabat gw jadi beken... Mohon maaf, deh, Yud... Emang jalan hidup lo ngga jadi artis kali...).
Dan ketika loe ditawarin lagi main film Kuntilanak.... eerrrggghhhhh.... sudahlah, Yudyyyy.......!!!!!
Eniwei, selamat ulangtahun, Yudy...
Semoga selalu yang terbaik buatmu... Buat Mama dan Abangmu..
Buat brondongmu.. Buat karirmu… Jodohmu… Semuanya…
I love you, Nduk…
Posted at 12:02 pm by ekanurlita
Permalink
Bismillah
Tanpa harus membohongi diri sendiri, banyak hal yang patut disyukuri dalam hidup.
Menjadi seorang perempuan berusia 25, sudah bisa membiayai diri sendiri, saling memiliki dan merajut hari bersama seseorang yang selalu baik hati dan sabar, memiliki teman-teman yang menyenangkan dan bisa diandalkan untuk mengobati hati yang luka, memiliki saudara-saudara yang mendukung, dan banyak lagi hal lain yang terlalu banyak untuk dijabarkan satu persatu
Banyak hal yang saya pelajari dari masa-masa transisi ini. Oiya, buat saya usia 25 adalah masa transisi dari seseorang yang merasa bisa hidup sendiri menuju seseorang yang harus bisa hidup menopang hidup orang lain (suatu saat kan kita-kita ini akan menjadi perempuan yang mendukung kehidupan ehm..suami, anak-anak, mungkin juga orangtua dan saudara-saudara..).
Hidup saya hari ini adalah hidup seorang perempuan yang dipanggil ’Tante’ oleh anak-anak tetangga (bukan lagi ’Kakak’, sekeras apapun saya berusaha untuk dipanggil Kakak, anak-anak itu akan tetap memanggil Tante..), hidup seorang perempuan yang berusaha berpegang kuat-kuat pada tangan seorang pria yang sepakat untuk kelak mengarungi samudera kehidupan berdua saja (ehm...lelelelelele), hidup seorang anak yang berusaha memahami masa transisi orangtua menjadi seseorang ‘tua’ yang mulai complicated dengan perubahan-perubahan biologis yang menyebabkan emosinya naik turun seperti anak kecil lagi.... dan hidup seorang karyawan rendahan yang bangun pagi, bekerja 8 jam, dan pulang tanpa ingat sudah berkontribusi apa saya hari ini untuk kemajuan perusahaan....
Dan nggak menafikan kenyataan, untuk memenuhi semua fungsi saya dalam kehidupan : saya butuh seseorang di samping saya, seseorang yang bisa berfungsi sebagai sahabat, bisa sebagai kakak, bisa sebagai orangtua, bisa sebagai guru, bisa sebagai...mm..mmm... *censored*.
Jadi, buat saya, dunia memang berjalan seperti itu. Dunia memang mengenal pertemuan yang berpasangan dengan perpisahan, kejujuran yang berpasangan dengan kecurangan, kebaikan yang berpasangan dengan keburukan.... Begitulah...
Kalau saya adalah manusia yang menangis, dihujat, tidak diperlakukan adil oleh orang lain, diharuskan berjuang dulu sebelum meraih apa yang saya impikan, artinya itulah pengakuan dunia terhadap eksistensi saya.
Begitu pun kala saya menjadi manusia yang tertawa, bahagia, dikejutkan dengan hal-hal indah yang mewarnai hidup saya, itulah juga hadiah dan pnghargaan dari kehidupan untuk saya.
Yah, tanpa harus membohongi diri, banyak sekali hal yang patut disyukuri dalam hidup.
Posted at 11:57 am by ekanurlita
Permalink
Oct 10, 2007
Bismillah
Apa yang terbersit di benak Anda waktu membaca judul di atas? Berat, kan, Bo, tollong…
Dan itu juga yang langsung terbersit di otak saya waktu slide pertama dari presentasi Pak Imran terpampang di panggung, judulnya : Profesional Kaffah.
Dengan gusar saya langsung celingak celinguk menatap satu persatu wajah panitia, minta pertanggungan dan perjawaban, dari mana asal usulnya materi seberat ini bisa lolos sensor masuk ke acara pesantren kilat yang pesertanya kebanyakan anak SMA, SMP, dan SD ini…. Tapi nggak ada yang paham juga darimana asal usulnya materi ini, soalnya pada rapat koordinasi terakhir, perasaan jam materi pertama akan diisi dengan materi ‘Berpikir Kreatif’…. Kok tau-tau pada waktu hari-H berubah total?
Dan kepanikan saya berubah menjadi kekhawatiran sosial (ededeh bahasanya) para panitia ketika satu persatu slide terpampang, dan kayaknya kita semua sepakat bahwa materi ini semestinya disajikan untuk peserta sekelas mahasiswa S2 atau para pegawai kantoran.. Bukannya anak SD, SMP, SMA…
Dan beberapa kali terjadi gap yang aneh dan tidak terjelaskan antara penyaji dan peserta… Bayangkan saja, peserta sama sekali ngga mudheng waktu dipaparkan tentang ISO 9001, Seven Habits, Management by Object, Management by Process, bahkan ditanyakan : “Adik-adik tau nggak nikel itu ada pada kedalaman berapa meter dari permukaan tanah?” Hahahaha, panitia hanya bisa tersenyum kecut ketika peserta tidak merespon satu pun submateri yang terus terang panitia juga ngga ngerti…
Malamnya, secara terselubung, beberapa orang panitia yang memang berjiwa pemberontak mengadakan rapat dadakan yang isinya adalah rencana-rencana unjuk rasa terhadap isi materi sanlat yang menurut kami nggak asyik dan nggak kena sasaran. Hahahaha… Mohon maaf lahir dan batin buat semua, terutama ketua panitia.. hehehehehe --paragraf di atas isinya hiperbola semua, kok...Nggak sesuai-sesuai amat dengan kenyataan.. hehehe —
Dan diluar dugaan, pada saat acara penutupan, dimana peserta diberi kesempatan memberi kesan dan pesan untuk keseluruhan rangkaian acara sanlat, seorang peserta ikhwan dengan lugunya mengingatkan pada teman-temannya bahwa mereka harus menjadi profesional, begini kata-katanya kira-kira : ”Teman-teman, kita harus menjadi pelajar yang profesional, seperti materi yang pernah kita terima sebelumnya tentang profesional kaffah...”
Dan itu menyadarkan saya, bahwa
kadang apa yang kita sangkakan tidak baik untuk orang lain, ternyata justru diterima dengan begitu baik, malah membanggakan untuk orang itu.
Saya nggak menyadari bahwa anak-anak SD, SMP, SMA itu, yang walau pastinya belum siap menerima materi seberat profesional kaffah, tetapi mereka malah jadi memiliki kebanggaan karena dipercaya siap menerima materi seberat itu.
Hmmm.... seharusnya tulisan ini masih panjang, karena saya ingin sekali menganalisa lebih jauh tentang kebanggaan diri yang bertentangan dengan kapasitas diri... Tapi itu lain kali lah ya...
Profesional kaffah.... *thinking mode *
Posted at 07:54 am by ekanurlita
Permalink
Oct 9, 2007
bismillah
Ramadhan sudah berakhir lagi... Tinggal menghitung hari... I'm about to think untuk mengganti font blog ini.... Bukankah fontnya terkesan terlalu 'kolot'? hahahaha.... Jangan-jangan menimbulkan kesan bahwa saya adalah orang yang much older than my real age.... Oh iya, bicara tentang itu, beberapa hari yang lalu saya, Kak Nuni, dan Selvi membahas tentang seseorang yang 'pandai' sekali menilai seseorang dari blog-nya... Saya kurang sepakat tuh... Apapun itu, ngga bijak kalo kita menilai orang hanya dari apapun yang selintasan saja...
Ummm... many things happened..happening... and will happen... I dont know, kayaknya hidup memaksa semua usur dalam diri saya untuk lebih dewasa... Kalau mau manja, semua kejadian ini rasanya nggak compatible dengan kemampuan saya menerima, tapi... Allah Maha Baik tidak mungkin memberi kita sesuatu yang tidak siap kita lakoni...
Have a nice life...
Posted at 07:53 am by ekanurlita
Permalink
Sep 21, 2007
bismillah
Malam itu banyak sekali SMS yang masuk ke HP saya, isinya kebanyakan penghiburan karena setelah menjalani tes tahap terakhir untuk sebuah posisi kerja yang sudah menggantung saya setengah tahun lebih, saya belum juga dipanggil untuk mulai bekerja.
Yah, lepas dari filosofi kepasrahan "Kalau sudah rejeki nggak akan kemana"... saya mulai percaya bahwa rejeki orang memang sudah diatur, mau diperoleh dengan jalan halal atau haram, nyatanya dunia ini memang berwarna hitam dan putih... Kecurangan selalu berjalan beriringan dengan kejujuran.
Untuk Sorowako, dan saya tahu beberapa orang di luar sana juga, bekerja di perusahaan yang se-bonafide perusahaan tambang multi nasional yang berlokasi di Sorowako ini adalah cita-cita yang bila tercapai adalah jaminan kesuksesan hidup. Termasuk yang terjadi pada seorang teman yang sama-sama mengikuti rangkaian tes masuk perusahaan ini. Malam itu, dia mengeluh bahwa dia menyesali keputusannya menanda tangani kontrak kerja di perusahaan tersebut. Saya tanya kenapa? Bukankah bekerja di perusahaan ini artinya kamu sudah cukup berhasil dalam hidup? Orangtuamu sudah cukup bangga telah berhasil menjadikan anaknya seseorang yang bisa diandalkan dari segi ekonomi.
Dengan lirih dia bilang : "Posisinya nggak sesuai harapanku. Dan ternyata banyak hal yang diluar perkiraan baru ketahuan setelah bekerja" Saya tanya : "Memangnya nggak dikasih penjelasan waktu sign kontrak?" Dia : "Liaison-ku bicara terlalu cepat, kayaknya dia sengaja bikin aku bingung, Ka.." Saya : "Tentang gaji, bagaimana? Bagus, kan?" Dia : "Iya, sih. Lebih baik dari pekerjaan yang kemarin, tapi sedikit saja bedanya. " Saya : "Hak-hak atas benefit dan lain-lain?" Dia : " Ada, sih.. Tapi ngga sesuai harapan.." Saya : "Lalu apa masalahnya?" Dia : "Eka, aku nggak tau jobdesk-ku apa... I dont even have my own seat... Jadi aku melayang-layang saja... Nggak jelas.." Saya : "Kamu merasa pekerjaan ini ngga sesuai?" Dia : " Bukan cuma ngga sesuai, tapi jauh dari harapanku..." Saya : " Kenapa ngga diskusi panjang lebar dengan liaison-mu waktu sign kontrak? Kamu berhak, lho.. Kontrak itu kan kesepakatan kedua belah pihak, bukan ditandatangani atas dasar ketidak tahuan salah satu pihak..." Dia : "Iya, Ka.. Aku merasa ditipu mentah-mentah.."
Yah, what can I say... Saya cuma bisa menyemangati teman saya itu supaya dia tetap bekerja dengan baik agar orang melihat potensi dia yang sebenarnya.
Hanya saja saya menyoroti satu hal : kebanyakan kita bekerja dan mengabaikan hak-hak kita sebagai tenaga kerja. Yang penting punya pekerjaan dan penghasilan. Padahal sangat penting untuk mengetahui apa saja hak dan kewajiban kita sebagai warganegara, dan sebagai tenaga kerja juga. Indonesia memang negara yang sangat produktif menghasilkan pengangguran, dan sangat minim membuka kesempatan kerja untuk warganegaranya. Tapi bukan berarti kita harus ngga peduli sama hak-hak kita, kan?
Ah, miris....
Posted at 12:41 pm by ekanurlita
Permalink
Sep 17, 2007
Bismillah
Satu hal yang selalu bikin saya kelabakan setiap pagi adalah tukang ojek. Iya, tukang ojek! Sorowako yang medannya lewati gunung turuni lembah ini memang membutuhkan transportasi umum yang efektif, dan ojek-lah jawaban yang paling tepat untuk memenuhi kebutuhan orang-orang yang belum bisa beli kendaraan sendiri seperti saya.
Masalahnya hampir setiap pagi saya selalu ‘on-time’ banget alias nyaris terlambat, maha ojek di daerah rumah saya tuh termasuk susah, lagi. Jadi kadang saya jalan pelan-pelan sambil nunggu ojek, eh..tau-tau udah nyampe kantor dan telat, saking ngga ada ojek…!
Jadi ada cerita, tadi pagi saya lagi-lagi terlambat. Tiba-tiba ada ojek lewat, dan saya hentikan.Padahal saya udah setengah perjalanan nyampe kantor. Dengan akrabnya si tukang ojek ini bilang : ”Eh, mau ke mana?” ”ATS” ”Jauh sekali kau jalan sudah sampai sini?” ”Iya, Om. Habis ditunggu-tunggu di atas nda datang-datang ojeknya.” ”Naik mi..”
Dengan setengah bingung saya naik ojeknya. Dalam hati saya bertanya-tanya apakah tukang ojek ini kenalan saya atau siapa, ya? Jangan-jangan saudara saya lagi, tapi karena saya terlalu lama sekolah di luar, saya jadi nggak mengenali lagi muka saudara-saudara saya. Kok dia nampak akrab banget sama saya? Wah, kalau saudara, bayar, nggak, ya? Hahaha.... Tapi saya bayar, sih.. Saya lebihin malah.. hehehe...
Dan somehow, saya nggak punya penjelasan yang cukup rasional, saya sekarang sangat akrab dengan tukang-tukang ojek, lho...
Ada yang pernah khusus bawain saya helm baru dan nungguin saya pulang kerja. Ada yang saking akrabnya jadi kayak temen, gitu. Tiap ketemu pasti dia bunyiin klakson atau menyapa (Sapaannya semacam :”Ndak dijemputki adek ta lagi?”, atau ”Ndak bawa motor, ya hari ini?”). Bahkan yang paling lucu adalah sering tanpa saya sebutin tujuan, tukang-tukang ojek itu sudah tau kemana harus mengantar saya.... hehehehe.....
Posted at 10:01 am by ekanurlita
Permalink
Sep 14, 2007
bismillah
KATYA. Katya dalam novel Edensor adalah perwujudan sempurna dari kecantikan seorang wanita Kaukasia : tinggi, cantik putih, pirang. Satu fakta menarik yang saya temukan dalam novel itu adalah bahwa definisi cantik bagi tiga negara : Indonesia, India, dan Meksiko adalah KATYA. Cantik buat kebanyakan orang di negara kita adalah : seperti perempuan Bule.
Nggak heran ya kalo banyak sekali (saya sangat yakin dengan penggunaan frasa ini : BANYAK SEKALI) perempuan Indonesia yang berlomba-lomba untuk menjadi lebih putih, lebih tinggi, dan...yang paling tidak sesuai dengan pemikiran saya adalah penggunaan lensa mata berwarna Eropa dan mengecat rambut dengan warna Kaukasia juga....
Jadi ada cerita. Suatu hari, saya dan beberapa temen kantor makan siang bareng. Dalam perjalanan kami ngobrol2 lah itu, sampai tiba-tiba ada yang cerita bahwa ada sebuah produk racikan dokter dari Jakarta yang bisa mencerahkan dan menjauhkan kulit muka dari berbagai masalah. Yah, gadis-gadis pedesaan yang berpikiran pendek ini dengan mudah tertarik dan membeli produk itu (termasuk saya, yaa... ). Sehari penggunaan, kulit muka saya mulai terasa kering. Dua hari, makin kering dan mulai perih. Saya komplen lah ya ke temen yang nawarin produk ini. Katanya ini adalah reaksi yang wajar dari produk tersebut. Semua juga mengalami tahapan ini sebelum akhirnya menjadi lebih PUTIH. Hah, what???!!! PUTIH? Dengan terkejut saya bertanya, "Jadi ini produk pemutih wajah, Er?"
Singkat cerita, hanya bertahan empat hari saja, saya menghentikan penggunaan produk ini. Haduh, saya nggak mau deh jadi lebih putih, lebih mulus, apapun itu...
Beberapa hari setelah itu saya bertemu seorang teman di pasar. Teman yang biasanya sangat cerewet ini tiba-tiba menjadi 'terbatas', dengan penuh selidik saya teliti ada perubahan apa gerangan pada dirinya. Ternyata kulit mukanya kaku. KAKU, Saudara-saudara!! Kaku, kaku... seperti kulit yang habis terbakar gitu. Dan dia cerita bahwa kulitnya menjadi panas dan perih, sakit, dan akhirnya dia menghentikan penggunaan produk itu. Dan itu adalah efek penggunaan produk pemutih yang saya yakin lebih keras daripada yang sempat saya pakai beberapa hari sebelumnya.
Efeknya bahaya banget ternyata. Saya sungguh takjub ada orang yang kuat menyakiti kulitnya sendiri demi menjadi lebih putih....
Haduh...cantik nggak gitu, deh... Saya pun jadi introspeksi diri, saya mendapat pelajaran juga dari pengalaman ini.
I dont know what to say.... Mengerikan...
Posted at 12:37 pm by ekanurlita
Permalink
bismillah
Siang itu ba'da dzuhur, di Pendopo Masjid Al-Jihad, sehari setelah libur Lebaran, beberapa teman yang kampungnya jauh belum juga bisa bergabung. Kami duduk membentuk lingkaran : saya, Teh Ai, Imam, Johan. Dari semua kalimat yang meluncur dari bibir-bibir kami, ada satu kalimat Teh Ai yang sampai sekarang selalu terngiang di telinga saya : "Kondisi iman sepulang liburan biasanya menurun. Pengaruh rumah dan kampung halaman, jadi ya biasa lah kalo beberapa di antara kita masih malas-malasan."
Lalu bagaimana kondisi iman setelah benar-benar pulang kampung dan menetap? Sejak setahun saya pulang ke Sorowako, bergabung lagi dengan Bapak, adik-adik yang kondisinya bukan lagi adik-adik lucu yang saya tinggalkan 10 tahun silam, Mama yang sudah tidak lagi ada, tinggal nisannya saja yang bisa melipur rindu... saya kembali lagi pada kondisi diri saya yang sangat labil dan fluktuatif.. Butuh waktu sangat lama, sangat lama untuk beradaptasi kembali. Ternyata menyerap energi cukup besar untuk bisa memadukan lagi Eka yang dulu, dengan Eka yang sudah terwarnai (tershibghoh-kah?) Magelang dan Bandung.. Ramadhan ini, alhamdulillah... Saya nggak tau apa namanya ini, tapi rasanya persenyawaan antara unsur-unsur dalam diri saya itu mulai membentuk pribadi yang lebih stabil dan sempurna...
Mungkin masih timpang dalam berjalan, masih goyah dalam berdiri, Tapi saya tahu ini akan berakhir baik... Setelah hari-hari penuh ketidak seimbangan itu Saya tahu ini awal yang baik

Posted at 12:00 pm by ekanurlita
Permalink
|