Entry: Sederhana vs. Pelit Feb 10, 2008



bismillah

Namanya Mbak Rina. Seorang ummahat sederhana yang kemana-mana selalu berpakaian penuh sahaja dan nyaris tanpa make up.
Jilbab, kemeja, dan rok yang nyaris selalu tergantung karena tubuhnya yang tinggi semampai.
Wajahnya putih bersih, hidungnya bangir mancung dan tutur-katanya selalu lemah lembut.

Pertama kali kenal Mbak Rina dipertemukan dengan kelompok halaqah baru yang isinya rata-rata ummahat, salah satunya ya Mbak Rina itu.
Suatu kali liqo kami diadakan di rumah beliau. Sebuah rumah di dataran tinggi Sorowako yang dari terasnya nampak jelas pemandangan Sorowako sampai ke Danau Matano yang dibingkai apik oleh pegunungan Verbeek di seberang sana.
Rumahnya sederhana sekali, nyaris tidak ada perabot kecuali fasilitas perusahaan. Hanya sebuah rak setinggi leher saya yang penuh oleh buku-buku agama. Itu saja.
Sederhana sekali, dan kesan itu meninggalkan kesan yang begitu kental di hati saya karena dia bisa hidup bergelimang kemewahan, tapi dia tidak.

Sekarang Mbak Rina udah nggak di Sorowako lagi. Tapi interaksi kami yang sekejap itu tidak dapat hilang dari benak saya.

Sekarang ada lagi teman liqo baru. Namanya Teh Resy. Kemanapun dia pergi, gamisnya selalu yang itu-itu saja. Wajahnya putih bersih, matanya berbinar-binar seperti mata kelinci. Setiap liqo, beliau selalu membungkus perlengkapannya hanya dengan kantong plastik hitam saja. Sederhana sekali, padahal dia bisa hidup sedikit lebih mewah jika dia mau.

Sederhana atau pelit? Dua-duanya hampir sama artinya : memangkas pengeluaran untuk memenuhi kebutuhan hidup yang tidak primer. Tapi implementasinya sungguh jauh berbeda.

Kalau pelit menyesakkan hidup, maka sederhana melegakannya.

Saya masih harus banyak menimba ilmu hidup dari orang-orang disekitar saya.

   2 comments

pank
February 11, 2008   05:25 AM PST
 
terminologi sederhana, irit , pelit ...akan segera diteliti d lab kami...*sambil menyiapkan bahan penelitian*..heu..heuu
ivan
February 11, 2008   04:10 AM PST
 
hmmm......

mungkin menimba ilmunya harus sering-sering melihat ke bawah (kaum tak punya). sehingga bisa jadi bahan compare dan membangkitkan kepekaan.

Wallahu a'lam

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments